Jumat, 28 Desember 2012

Kenapa Harus Umroh?


Belakangan kemanapun gue pergi, entah itu ke Masjid Kampus tercinta, turun gunung, ke kota, ke kampus-kampus lain atau sekedar beranjak melangkahkan kaki ini ke luar dari kotak nyaman berukuran tiga kali empat meter sendiri atau bareng-bareng sama fellas, selalu terbayang sebuah pertanyaan. Ada sebuah pertanyaan yang masih terngiang-ngiang, hinggap di kepala gue seolah ada seseorang dalam kepala gue yang yang bukan gue dan terus menekan dengan pertanyaan yang sama -lebay. Intinya ada sebuah pertanyaan yang selama hampir 2 minggu ini belum ketemu jawaban yang relevan, kontekstual dan ideologis (mendasar) menurut gue pribadi.


Pertanyaan yang harusnya bukan cuma gue aja yang mikirin tapi juga anak-anak BEM yang lain. Cukup simple namun butuh jawaban yang pas, pas karena kita sebagai mahasiswa, pas karena kita sebagai aktivis pergerakan, pas karena kita juga sebagai pegemban dakwah, pas juga karena kita nantinya akan jadi pemimpin masa depan, dan harus pas karena kita sebagai penyuka kopi tanpa amPAS.. yang terakhir intermezzo aja

Kenapa harus Umroh? Itu pertanyaannya. Simple, gak baku (pake kenapa bukannya mengapa), gak lumrah bagi mahasiswa, gak gaul banget, right? Yang gak setuju silakan nambahin.

Umroh, ide fenomenal yang tercetus dari pertemuan dengan pak karebet yang waktu tanggal limabelas desember pagi ngasih upgrading, atau bahasa jawanya ngasih wejangan atau bahasa jawa yang lainnya ngompori, atau bahasa tekniknya troubleshooting atau kalo gue boleh pake bahasa sendiri tidak lain tidak bukan garis besarnya memotivasi dan nantangin anak-anak BEM pergi ke Mekah, untuk Umroh. Titik.

Berbekal semangat yang didapat dari cerita pak karebet tentang LKMA-nya anak-anak SMA Insantama Bogor yang berhasil study tour ke Malaysia. Yang kalo secara logika anak SMA jaman sekarang hal yang lumayan berat. Karena semua biaya keberangkatan dan lain-lainnya dikumpulkan secara mandiri tanpa ada intervensi makhluk tercinta dan terdekatnya, ortu mereka maksudnya. Mereka bekerja secara berjamaah dan teamwork-based. Gak banyak anak SMA yang punya kemampuan high –kalo gue bilang- seperti mereka. Bukan cuma karena bisa ngumpulin seratus delapan puluh juta dalam waktu satu setengah bulan aja, tapi juga bagaimana membuat kagum para sponsorshipnya dengan menghadirkan aneka gaya dan teknik presentasi yang menarik dan valuable.

Bahkan ketika di Malaysia bukan hanya sekedar jalan-jalan biasa, tapi juga kembali membuat agenda-agenda super –kata Mario teguh- yang bisa dijalani dengan ketahanan fisik yang luar senantiasa prima. Begitu kata pak karebet.

Nah acara LKMA insantama Bogor juga awalnya merupakan program yang sama di gelontorkan oleh pak karebet dan Pembina insantama yang sekarang coba di gelontorkan juga kepada pengurus BEM.

Bukan LKMA-nya tapi jalan panjang dan proses menuju Malaysia yang menjadi pembuktian bahwa Insantama Bogor merupakan salah satu sekolah para calon leader level nasional. Begitupun pengurus BEM Hamfara yang diberikan sebuah tantangan yang menantang, yakni Umroh.

Sekedar ingin membuktikan juga kah bahwa pengurus BEM Hamfara merupakan para calon leader level nasional? Atau hanya sekedar hasrat sekejap emosional kala pagi yang ngantuk dan tidak adakah alasan yang lebih keren daripada sekedar pembuktian eksistensi diri atau segala macemnya itu?

“Mereka yang SMA aja bisa ke Malaysia, kita yang mahasiswa harusnya bisa lebih dari itu!” apa sekedar karena tantangan begituan kita umroh?

Mari kita menghela nafas sejenak dengan menghirup pelan lewat hidung, kemudian keluarkan lewat mulut. Ulangi selama tiga kali. Calm down. Ghoosfraba.

Untuk tau alasan sebenarnya gue udah coba nanyakin individu pengurus BEM satu per satu. Diantara jawaban yang terlogis, terkeren, dan terbaik yang coba gue kumpulin dari sebagian pengurus BEM Ikhwan, ada yang mengatakan karena umroh adalah salah satu ibadah yang utama dan memiliki keutamaan, misalnya

“salah satu perintah Allah SWT”
“doa-doa yang makbul untuk dikabulkan”
“karena sebagai penghantar haji”
“memenuhi panggilan Allah, panggilan Allah di dunia ini ada tiga; adzan, haji & umroh, dan mati”
“Tuntutan ibadah”

Atau jawaban tipikal pria idaman para mertua –mungkin- bukan karena tampangnya karena gak ada visualisasi wajah ikhwan juga disini namun karena melihat kata-katanya yang melankolis, agak panjang, dan –keliatannya- bijak. Misalnya

 “karena kita adalah leader dan butuh aktivitas selevel leader dan itu ada pada umroh”
“Menyelami, (merasakan panasnya gurun pasir) perjuangan Rasul dan para Sahabat pada awal penyebaran Islam, setidaknya dengan itu diharapkan bisa tergambar betapa beratnya perjuangan Rasul dan para Sahabat”
 “karena Haramain adalah tempat sebaik-baiknya hijrah.. Haramain awal mula lahirnya Islam dan menyebar ke seluruh dunia”
“karena saya dan kita adalah para pemuda yang mencintai dan memperjuangkan Islam”
“karena ini merupakan pembuka gerbang perubahan dan pembebasan melalui metode Rasulullah ketika berdakwah yakni munajat do’a di tanah suci Makkah dan Madinah secara langsung sekaligus menganalisis kondisi masyarakat intelektual arab saat ini. Terkhusus yang terhimpun di satu Universitas”
“napak tilas jejak dakwah Rasulullah SAW”
“saya yakin alasannya ingin menghadap Allah, sebelumnya ke alasan, niat lebih penting & urgent, jangan terbawa keinginan semata dan jangan karena keterpaksaan, yang kedua Haji maupun Umroh bagi yang mampu, yang lebih mulia darpada itu adalah sudah adanya panggilan kesana (tanah suci) oleh Allah. Ingat njeh, fa idza ‘zzamta fatawakkal ‘alallah, laa yukallifullaha nafsan illa wus’aha”
“berdakwah dengan amal prilaku kita lebih baik dari pada kata-kata, makanya dg umroh ini kita buat mereka yg hanya diam dan melihat kita, tercengang menyaksikan keberangkatan tim BEM pembebasan ke tanah suci, agar mereka sadar, & terobsesi meniru semangat kita ! Allahu Akbar”

Atau jawaban tipikal Mahasiswa yang BEM-minded, misalnya
“sebagai pembeda dari beratus BEM seluruh Indonesia”
“karna BEM kita memang layak, pantas dan pasti bisa…”
“setiap akhir kepengurusan, BEM layak mengadakan suatu event yang besar”

Atau jawaban penuh obsesi dengan penuh kepolosan –mungkin.
“terlepas dari Sunnah, ini kepuasan pribadi (jujur)

menurut pendapat gue pribadi yang tentu saja menurut gue paling logis, keren dan memuaskan –hha, kalo ada yang gak setuju gue tunggu di perempatan,,
 “untuk membuat track record yang amazing…kapan lagi?”

Nah, kawand mana yang kira-kira jadi alasan antum semua untuk melakukan umroh?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar